Sinopsis : Buku ini adalah kajian filologis dan religi-historis yang mengulas bagaimana peradaban Mesir Kuno memahami “jiwa” manusia—bukan sebagai entitas tunggal, melainkan sebagai konstelasi beberapa elemen yang saling melengkapi: Ka, Ba, Sheut, Ib, Ren, hingga Akh. Dalam Prakata dan Eksordium, penulis menempatkan persoalan jiwa sebagai pertanyaan abadi yang belum terjawab tuntas oleh sains, psikologi, maupun neurosains modern, lalu mengajak pembaca menyelami kebijaksanaan Mesir Kuno sebagai mitra dialog lintas zaman bagi krisis identitas manusia kontemporer. Bab I – Ka: Membahas Ka sebagai energi vital atau “kembaran spiritual” yang tercipta bersamaan dengan tubuh fisik (dikaitkan dengan mitos roda tembikar Khnum dan teori plasenta). Ka membutuhkan “asupan” lewat ritual persembahan, didukung infrastruktur ekonomi-religius (Hem-Ka, Papirus Hekanakht) serta arsitektur khusus seperti Serdab dan Pintu Palsu. Bab II – Ba: Mengupas Ba sebagai representasi kepribadian dan kesadaran individu yang mobile, disimbolkan sebagai burung berkepala manusia. Ba bebas mengembara di siang hari namun harus kembali ke jasad pada malam hari; bab ini juga membahas teks sastra “Perdebatan Seorang Pria dengan Ba-nya” serta peran Ba dalam pengadilan akhirat dan tradisi Letters to the Dead. Bab III – Sheut dan Ib: Menjelaskan Sheut (bayangan) sebagai bukti eksistensi fisik-spiritual, dan Ib (jantung) sebagai pusat moral dan kecerdasan yang akan ditimbang dalam ritual Psikostasia di hadapan Osiris—dengan Ammut sebagai ancaman “kematian kedua” bagi yang gagal. Bab IV – Akh dan Ren: Menutup pembahasan dengan Akh, status transenden yang dicapai melalui penyatuan Ka dan Ba setelah lolos pengadilan Ma’at, serta Ren (nama) sebagai jangkar keabadian identitas yang harus terus diucapkan agar tidak musnah (damnatio memoriae). Buku ini diakhiri dengan Perorasi yang merangkum bahwa bagi Mesir Kuno, kematian bukan akhir melainkan proses “perakitan kembali” elemen-elemen diri menuju keabadian cahaya—sebuah pesan yang ditawarkan penulis sebagai refleksi bagi manusia modern tentang makna identitas, memori, dan keabadian.